Jumat, 08 Mei 2020

Polemik Pemanfaatan HP dalam Pembelajaran di Kelas

Handphone (HP) yang sudah berkembang menjadi Smartphone yang dalam Bahasa Indonesia disebut GAWAI, kini menjadi benda ajaib yang memikat tidak saja siswa, tetapi juga guru. Tidak saja anak, tetapi juga orang tua. Manfaatnya beraneka. Mulai untuk komunikasi individual, group, teleconferen, media sosial, browsing, unggah, unduh, sampai pada belanja online dan mobile banking. Pokoknya semuanya ada di HP. Semuanya kalangan tertarik. Begitu menariknya, setiap kepala dalam satu rumah, dapat dipastikan memiliki HP. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu HP yang berisi beberapa kartu juga dengan operator seluler yang berbeda. Coba kita tengok pemanfaatannya dalam pembelajaran. Terjadi perbedaan visi dan persepsi. Bahkan ada yang sudah salah berasumsi. Ada yang menganggap penting HP digunakan dalam pembelajaran. Bisa untuk browsing, diskusi kelompok via group wa, pemanfaatan aplikasi pembelajaran, dan yang terpenting potensi HP dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa kita generasi milenial. Dunianya ada dalam Smartphone-nya. Hidupnya tidak bisa terpisah dengan Gawai-nya. SEDETIK PUN. Sisi lain, ada yang menganggap HP benda yang membahayakan siswa. Konon katanya bisa merusak mental dan menurunkan kesehatan siswa. Sehingga, HP dilarang dibawa ke sekolah. Bahkan sudah dimasukkan salah satu butir pelanggaran hanya karena "membawa HP" ("belum menggunakan"). Alhasil, sekolah sibuk merazia HP yang dianggap memiliki sejuta pengaruh negatif dan sedikit manfaatnya. Kata pakar psikologi pendidikan, yang terpenting di sekolah adalah peran guru. Bagaimana guru dekat lahir-batin kepada siswa. Bagaimana guru merebut hati siswanya. Bagaimana guru memberikan kasih sayang kepada mereka. Guru harus mampu memberikan sesuatu yang lebih, melebihi kemampuan sebuah Smartphone. Yaitu, kasih sayang, kedekatan, komunikasi batin yang humanis, pengasih, pengasah, dan pengasuh. Bahkan, Guru adalah pengganti orang tua siswa di sekolah. Intinya, manfaatkan HP atau Smartphone (GAWAI) dengan bijaksana. Di manapun tempatnya. Termasuk untuk pembelajaran di dalam kelas. Cari cara untuk mengurangi pengaruh negatifnya. Optimalkan manfaat positif teknologinya. Hanya sekadar pendapat. Mohon maaf.🙏🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar