Senin, 31 Agustus 2020

RPP SATU LEMBAR BAHASA INDONESIA KELAS 9 SEMESTER 2

 RPP SATU LEMBAR BAHASA INDONESIA KELAS 9 SEMESTER 2

Bisa dibaca dan diunduh DI SINI

RPP SATU LEMBAR K13 BAHASA INDONESIA KELAS 8 SEMESTER 2

 RPP SATU LEMBAR K13 BAHASA INDONESIA KELAS 8 SEMESTER 2

Bisa dibaca dan diunduh DI SINI

RPP 1 LEMBAR K13 BAHASA INDONESIA SMP SEMESTER 2

 RPP 1 LEMBAR K13 BAHASA INDONESIA SMP SEMESTER 2

Bisa dibaca dan diunduh DI SINI

RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 9 SEMESTER 1

 RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 9 SEMESTER 1

Bisa dibaca dan diunduh DI SINI

RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 8 SEMESTER 1

 RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 8 SEMESTER 1

Bisa Anda baca dan unduh DI SINI

RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7 SEMESTER 1

 RPP K13 BAHASA INDONESIA SMP KELAS 7 SEMESTER 1

Bisa dibaca dan diunduh DI SINI

ANTOLOGI PUISI "MATAHARI" KARYA GURU BAHASA INDONESIA SMP/MTs KAB PACITAN

 ANTOLOGI PUISI "MATAHARI" KARYA GURU BAHASA INDONESIA SMP/MTs KAB PACITAN

BISA DIBACA DAN DIUNDUH DI SINI

PANDUAN BDR BAHASA INDONESIA SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2020-2021

 PANDUAN BDR BAHASA INDONESIA SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2020-2021 ANDA DAPAT DOWNLOAD DI SINI

Jumat, 08 Mei 2020

Polemik Pemanfaatan HP dalam Pembelajaran di Kelas

Handphone (HP) yang sudah berkembang menjadi Smartphone yang dalam Bahasa Indonesia disebut GAWAI, kini menjadi benda ajaib yang memikat tidak saja siswa, tetapi juga guru. Tidak saja anak, tetapi juga orang tua. Manfaatnya beraneka. Mulai untuk komunikasi individual, group, teleconferen, media sosial, browsing, unggah, unduh, sampai pada belanja online dan mobile banking. Pokoknya semuanya ada di HP. Semuanya kalangan tertarik. Begitu menariknya, setiap kepala dalam satu rumah, dapat dipastikan memiliki HP. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu HP yang berisi beberapa kartu juga dengan operator seluler yang berbeda. Coba kita tengok pemanfaatannya dalam pembelajaran. Terjadi perbedaan visi dan persepsi. Bahkan ada yang sudah salah berasumsi. Ada yang menganggap penting HP digunakan dalam pembelajaran. Bisa untuk browsing, diskusi kelompok via group wa, pemanfaatan aplikasi pembelajaran, dan yang terpenting potensi HP dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Siswa kita generasi milenial. Dunianya ada dalam Smartphone-nya. Hidupnya tidak bisa terpisah dengan Gawai-nya. SEDETIK PUN. Sisi lain, ada yang menganggap HP benda yang membahayakan siswa. Konon katanya bisa merusak mental dan menurunkan kesehatan siswa. Sehingga, HP dilarang dibawa ke sekolah. Bahkan sudah dimasukkan salah satu butir pelanggaran hanya karena "membawa HP" ("belum menggunakan"). Alhasil, sekolah sibuk merazia HP yang dianggap memiliki sejuta pengaruh negatif dan sedikit manfaatnya. Kata pakar psikologi pendidikan, yang terpenting di sekolah adalah peran guru. Bagaimana guru dekat lahir-batin kepada siswa. Bagaimana guru merebut hati siswanya. Bagaimana guru memberikan kasih sayang kepada mereka. Guru harus mampu memberikan sesuatu yang lebih, melebihi kemampuan sebuah Smartphone. Yaitu, kasih sayang, kedekatan, komunikasi batin yang humanis, pengasih, pengasah, dan pengasuh. Bahkan, Guru adalah pengganti orang tua siswa di sekolah. Intinya, manfaatkan HP atau Smartphone (GAWAI) dengan bijaksana. Di manapun tempatnya. Termasuk untuk pembelajaran di dalam kelas. Cari cara untuk mengurangi pengaruh negatifnya. Optimalkan manfaat positif teknologinya. Hanya sekadar pendapat. Mohon maaf.🙏🙏🙏

Kamis, 12 Maret 2020

ERA SMART DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Pembelajaran kini berada pada era yang lebih dari canggih (sophisticated). Kini kita para pendidik ada pada era SMART. Artinya, siswa kita berharap layanan pembelajaran yang SMART. Masyarakat kita berharap pembelajaran yang SMART. Semua berkiblat pada SMARTPHONE. Serba mudah, serba instant, serba online, dan serba ada. Para pendidik mau tidak mau, suka tidak suka, harus siap memenuhi ekspektasi para siswa dan masyarakat belajar kita. Jika tidak dapat memenuhi harapan SMART tersebut, maka kita akan kehilangan minat dan motivasi para siswa kita di dalam kelas yang kita bangga-banggakan sebelumnya. Dapat dipastikan pembelajaran yang tidak SMART akan dianggap menjemukan, tidak menarik, membosankan, bahkan dianggap mubadzir oleh para siswa. Bayangkan, siswa kita sudah berada dalam pola SMART. Membaca buku dan mengasah literasi kurang diminati. Akan tetapi, membaca postingan status medsos, menonton video Youtube, dan bermain game online sangat digandrungi, bahkan banyak para siswa yang ketagihan. Bila, pembelajaran yang kita bawa ke dalam kelas ternyata miskin inovasi dan kreasi, terlalu banyak tugas yang membebani para siswa, membuat suasana hati para siswa tidak bahagia, terlalu banyak teori dan kata-kata yang memenuhi memori para siswa, terlalu tergantung pada buku teks, terlalu banyak LKS, maka kita akan dicuekin, tidak dipedulikan, bahkan akan ditinggalkan para siswa. Para siswa yang kita harapkan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran, pada akhirnya akan sibuk bermain dengan teman-temannya di dalam kelas. Ada yang ngobrol. Ada yang tidur. Ada yang menggunjing gurunya yang sibuk berteori. Nah, masihkah kita para pendidik akan mempertahankan pembelajaran konvensional, bahkan yang tradisional. Langkah yang bijak tentu kita harus berubah. Menuju pembelajaran yang SMART yang diharapkan masyarakat belajar kita. Marilah kita bawa pembelajaran kita ke dalam dunia para siswa. Materi dan metode pembelajaran perlu kita tarik ke dalam dunia medsos, game, dan inovasi atraktif yang lain. Media pembelajaran kita perlu kita update sehingga bisa mengimbangi medsos, Youtube, dan game online. Gaya mengajar kita perlu kita update seperti host dalam acara talk show di televisi. Kelas perlu kita setting seperti dunia para siswa. Perpustakaan perlu kita tingkatkan menjadi perpustakaan digital plus layanan internet bandwitch tinggi. Lingkungan sekolah perlu kita ubah menjadi taman-taman yang hijau dan ramah lingkungan. Koperasi sekolah perlu kita setting seperti minimarket modern. Kantin perlu diubah seperti resto kuliner alam. Pendeknya, sekolah kita menjadi surga dunia bagi para siswa dan guru-gurunya. Langkah ini perlu tahapan sesuai skala prioritas. Kalau tidak ada skala prioritas, anggaran sekolah tidak mampu membiayainya. Yang pertama dan yang paling utama adalah menata ulang pembelajaran dalam kelas. Setelah itu baru pada sarana dan prasarana pendukung pembelajaran tersebut. Mari kita menuju pembelajaran SMART sesuai kondisi sekolah kita. Sekadar opini, semoga bermanfaat.